Home > Uncategorized > Membatalkan Pinangan

Membatalkan Pinangan

Dalam Hadist berikut Rosulullah saw. bersabda:
“Sifat orang munafik itu ada tiga: apabila berkata, ia dusta; bila
berjanji, ia menyalahi; dan bila dipercaya, dia khianat.” (HR.
Bukhari)

Peminangan merupakan langkah pendahuluan sebelum akad nikah. Pada
saat meminang sering kali disertai dengan pemberian maskawin, baik
seluruh atau sebagiannya, dan disertai pemberian bermacam-macam
hadiah atau lainnya guna memperkokoh pertalian dan hubungan yang
masih baru itu. Akan tetapi, terkadang terjadi bahwa pihak
laki-laki atau perempuan atau kedua-duanya kemudian membatalkan
rencana pernikahan. Bolehkan hal ini dilakukan? Apakah segala yang
telah diberikan kepada perempuan yang dipinang itu harus
dikembalikan?

Pembatalan pinangan berarti membatalkan perjanjian hendak
melakukan akad nikah. Maksud Hadist di atas ialah bahwa
membatalkan suatu perjanjian tanpa suatu alasan yang sah adalah
termasuk perbuatan tercela, bahkan pelakunya dipandang sebagai
orang munafik.

Peminangan sebenarnya semata-mata merupakan perjanjian hendak
melakukan akad nikah, bukan berarti sudah terjadi akad nikah.
Seseorang yang sudah terikat pinangan boleh tetap meneruskannya
hingga ke perkawinan dan boleh juga membatalkan bila ternyata
hatinya tidak senang lagi.

Membatalkan pinangan ini menjadi hak masing-masing yang tadinya
telah mengikat perjanjian. Terhadap orang yang menyalahi janji
dalam pinangan, Islam tidak menjatuhkan hukuman material,
sekalipun perbuatan itu dipandang tercela oleh sebagian orang.

Mahar yang telah diberikan oleh peminang kepada pinangannya berhak
diminta kembali, karena mahar diberikan sebagai ganti dan imbalan
perkawinan. Selama perkawinan itu belum terlaksana, pihak
perempuan belum mempunyai hak sedikit pun atasnya dan ia wajib
mengembalikan kepada pemiliknya.

Adapun pemberian-pemberian dan hadiah-hadiah selain mahar hukumnya
sama dengan hibah. Secara hukum, hibah tidak boleh diminta
kembali, karena merupakan suatu derma sukarela dan tidak bersifat
sebagai penggantian dari sesuatu. Bila barang yang dihibahkan
telah diterima oleh yang diberi, berarti barang itu sudah menjadi
miliknya dan ia boleh menggunakan sesukanya. Bila pemberi hibah
memintanya kembali, berarti ia merampas milik orang yang diberi
hibah tanpa keridlaannya.

Dalam riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan Nasa’i, dari
Ibnu ‘Abbas, Rosulullah bersabda:

“Tidak halal seseorang yang telah memberikan sesuatu atau
menghibahkan sesuatu meminta kembali barangnya, kecuali pemberian
ayah kepada anaknya.”

Dalam Hadist yang diriwayatkan dari Salim, dari bapaknya,
Rosulullah saw. pernah bersabda:

“Barangsiapa memberikan hibah, dia masih tetap berhak terhadap
barangnya selama belum mendapatkan imbalannya.” (HR. Baihaqi dan
Hakim)

Hadist-hadist di atas sepintas terlihat saling bertentangang; yang
satu melarang meminta kembali hibah yang telah diberikan dan yang
lain membolehkannya.

Yang dimaksud Hadist pertama ialah pemberian tanpa syarat kepada
yang diberi. Pemberian semacam ini jika kemudian ditarik kembali
oleh perberinya hukumnya haram, kecuali pemberian ayah kepada
anaknya. Yang dimaksud Hadist kedua ialah pemberian bersyarat atau
pemberian dengan perjanjian bahwa yang memberi mendapat imbalan
tertentu dari penerima. Jika ternyata penerima tidak memenuhi
syarat semacam ini, pemberian tersebut boleh ditarik kembali.

Oleh karena itu, bila pinangan dibatalkan, yang dapat diminta
kembali hanyalah mahar, sedangkan pemberian selain mahar semacam
antaran (uang dan sebagainya pemberian dari pihak laki-laki kepada
bakal mertua) tidak boleh diminta kembali. Antaran (Jawa:
peningset) bukan termasuk hibah dengan imbalan tertentu. Meminta
kembali pemberian atau antaran diperbolehkan hanya bila ketika
penyerahan antaran itu ada perjanjian bahwa kalau dibatalkan,
antaran dikembalikan. Akan tetapi, kalau tidak ada perjanjian,
antaran tidak boleh ditarik kembali.

Pihak laki-laki atau perempuan tidak berdosa melakukan pembatalan
pinangan, karena tidak ada larangan dari Islam. Bila pembatalan
membuat marah calon suami atau calon istri, hal tersebut sama
sekali tidak mengharamkan pembatalan pinangan, hanya hal tersebut
tercela menurut adat.

Agar tidak terjadi pembatalan pinangan, upaya paling tepat
dilakukan ialah menyegerakan menikah pada hari meminang
sebagaimana dicontohkan oleh para sahabat Rosulullah saw.. Dengan
demikian, tidak ada kesempatan untuk membatalkan pinangan.

Membatalkan pinangan tidak diharamkan oleh Islam dan menurut hukum
Islam, pihak yang menerima pembatalan tidak dapat menuntut apa pun
dari yang bersangkutan. Segala pemberian kepada yang dipinang
tidak boleh diminta secara paksa kecuali maskawin. Selama tidak
ada perjanjian untuk mengembalikan, segala macam pemberian menjadi
hak penerima.

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: