Archive

Archive for the ‘karya-karya’ Category

Damailah Wahai Hati

”Andai bisa air mata menjadi tinta

sudah pasti sebuah syair ku nukilkan

mengungkapkan bait-bait hati

membaris abjad dari bicara atma

Duhai Maha Pendengar seisi dunia

tiada silu semahunya aku

dua lutut direbahkan lagi

untuk sekian kalinya mengemis

sekelumit kasih dari-Mu

biarlah walau dengan lemparan Kau berikan

Jauhkan kesedihan yang belum hak bagiku

jauhkan kesayuan ini

agar aku tahu

tugas mutlak hanya milik-Mu…”

21.00p.m/6.8.10

Categories: karya-karya

telah ku temukan CINTA baru

Hanya Allah yang Maha Mengetahui rentak hati ini….

Categories: karya-karya

Pesan Terakhir

January 2, 2010 Leave a comment

 

 

 

Sahabat,

andainya kematian kau tangisi

pusara kau siram dengan air matamu

maka di atas tulang belulangku yang dah luluh

nyalakanlah obor untuk umat ini

dan……………………………………………………………………..

lanjutkanlah gerak merebut kemenangan

Sahabat,

kematianku hanyalah suatu perjalanan

memenuhi panggilan kekasih yang merindu

taman-taman indah di syurga Tuhan

terhampar menanti

burung-burungnya berpesta menyambutku

dan berbahagialah hidupku di sana

Sahabat,

puaka kegelapan pastikan lebur

fajarkan menyinsing

dan alam ini kan disinari cahaya lagi

relakanlah rohku terbang menjelang rindunya

jangan gentar berkelana ke alam abadi

di sana cahaya fajar memancar.

-Sayyid Qutub-

1966

Categories: karya-karya

Biarkan Bayu Bertiup Duka, Teruskan Perjalanan Kita

January 1, 2010 Leave a comment

“Langit tidak selalunya cerah, sulam malam tak berbintang, itulah lukisan alam, begitu aturan Tuhan,”

Indah lirik lagunya semerdu suara sang penyanyinya…

Kita perlu menerima bahawa suasana alam sentiasa berubah-ubah,ada kalanya ceria dan ada kalanya muram. Namun,adakah dengan berubahnya suasana alam,pendirian kita juga mesti berubah?(ertinya berubah daripada keinginan untuk mencapai matlamat kepada perasaan malas yang akan membinasakan diri sendiri)

Tahun baru Islam sudah beberapa hari berlalu dan umur kita pula semakin meningkat,sedangkan apabila bertambahnya peningkatan umur maka jangka hayat kita hidup di dunia yang sementara ini semakin hari semakin singkat. Entah esok,entah lusa atau mungkin dalam masa satu saat lagi kita akan dijemput oleh-Nya untuk kembali pulang. Dan tiada sesiapa pun mampu menghindarkan diri daripada kematian sebagaimana firman Allah :

“Tiap-tiap jiwa akan merasai mati dan hanya makhluk jua yang mempunyai jiwa(roh atau dalam bahasa ilmu Ushuluddin dipanggil jauhar) dan roh adalah baru dijadikan-Nya daripada tiada kepada ada,maka yang mati hanya makhluk.Allah tetap Maha Hidup Kekal.”

Dalam perjalanan hidup ini, terkadang kita merasa penat dan letih ditambah pula dengan perasaan duka yang melemahkan jiwa,apatah lagi jika apa yang kita inginkan tidak dapat dicapai? Pastinya perasaan sedih dan keputus asaan akan lahir dalam jiwa.

Namun adakah apa yang kita anggap baik untuk kita itu terbaik bagi Allah? Dan mengapa Dia tidak memperkenankan keinginan dan doa yang kita rasakan terbaik untuk kita?

Sebelum persoalan di atas dijawab, ada satu lagi persoalan utama yang perlu kita jawab dahulu.

Siapa yang menjadikan kita?

Pasti jawapannya adalah Allah; Tuhan Pencipta Alam. Jika Allah yang menciptakan kita, maka Dia tahu yang mana baik dan yang mana buruk untuk kita. Oleh yang demikian terjawabnya persoalan di atas. Sesungguhnya setiap kejadian yang berlaku pasti ada hikmah yang terkandung di sebaliknya kerana Allah yang menciptakan kita dan Dia tahu apa yang terbaik dan apa yang akan membinasakan hamba-Nya.

Allah berfirman:

“Mungkin kamu membenci sesuatu padahal itulah yang baik bagimu,dan mungkin kamu suka pada sesuatu padahal bahaya bagimu,dan Allah yang mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”(Surah Al-Baqarah:216)

Selagi sang bayu masih bertiup meskipun hembusan bayunya pilu dan mendukakan, selagi matahari masih memancarkan cahayanya meskipun kadangkala cahayanya suram seketika apabila dilitupi sang awan, kita perlu terus berjalan dan terus berusaha meskipun kita diuji dengan kegagalan, musibah dan ujian yang membuatkan air mata sentiasa mengalir. Teruskan perjalanan kita, insyaAllah selagi mana kita berusaha, berdo’a dan bertawakkal kepada Allah, pasti Dia akan membantu kita.

Sabar adalah sumber kekuatan dan teman sejati kita. Sayyidina Umar Al-Khattab pernah berkata:

“Jika engkau sabar, maka hukum Allah tetap berjalan dan engkau mendapat pahala,dan apabila engkau tidak sabar, tetap berlaku ketentuan Allah sedang engkau berdosa.”

Ingatlah bahawa Allah tidak akan membebankan seseorang melainkan apa yang mampu ditanggung oleh hamba-Nya. Pasti setiap takdir yang kita lalui ini menunjukkan bahawa kita mampu menghadapinya.

Begitulah apa yang dihuraikan oleh Dr. Fadzilah Kamsah ketika menasihati seorang lelaki suatu waktu dahulu.

Dan teruskanlah penghijrahan kita ke arah kejayaan dan kegemilangan yang diredhai-Nya, moga-moga perjalanan kita pada tahun ini lebih baik dari tahun-tahun lalu.

Ketika peristiwa hijrah, generasi para kekasih Allah merasai keperitan, kesengsaraan dan kelaparan. Jika mereka yang paling dikasihi Allah itu pun terpaksa bersusah payah merancang dan berkorban demi mendaulatkan Islam, maka sudah tentu kita hari ini perlu bersedia untuk berkorban jika kita benar-benar mencintai agama kita

http://www.iluvislam.com
Mohd Shahrul Naim
Editor : GonjengPO

Categories: karya-karya

Saat Hati Berbicara Sepi

December 24, 2009 3 comments

Buat  insan yang bersujud di benua terpisah,

ku nukilkan bisikan hati

seraya tinta menjadi saksi

Tika aku bersendiri,

saat daku hitung butiran hujan dari langit

yang tak kunjung habis deraiannya…

Ku rasa kita makin terasing,

terpanar pada haluan masing-masing

destinasi semakin memisahkan kita

waktu semakin menjauhkan kita…

Ku tahu

hatimu tabah walau tanpa namaku

namun

jiwaku tidak secekal dirimu

Seluruh atma menafikan

bahwa ini awal dari kesudahan

kerna ku harusnya tahu

bukan ini yang kita impikan…..

Categories: karya-karya

~sendiri~

December 23, 2009 6 comments

Suatu pagi yang hening…

aku sendiri…ku tahu

penantianku bermula lagi

namun, aku terus melangkah

melewati hari-hari di hadapanku

walaupun…

sepertinya ku terasa

sudah semakin jauh

antara kau dan aku…

 

-monolog-

Hijau Daun – Suara (Ku Berharap)

di sini aku masih sendiri
merenungi hari-hari sepi
aku tanpamu, masih tanpamu

bila esok hari datang lagi
ku coba hadapi semua ini
meski tanpamu oooh meski tanpamu

bila aku dapat bintang yang berpijar
mentari yang tenang bersamaku disini
ku dapat tertawa menangis merenung
di tempat ini aku bertahan

reff:
suara dengarkanlah aku
apa kabarnya pujaan hatiku
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

suara dengarkanlah aku
apakah aku slalu dihatinya
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

kalau ku masih tetap disini
ku lewati semua yang terjadi
aku menunggumu, aku menunggu

reff2:
suara dengarkanlah aku
apa kabarnya pujaan hatiku
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

suara dengarkanlah aku
apakah aku ada dihatinya
aku di sini menunggunya
masih berharap di dalam hatinya

Categories: karya-karya

Senadi Takikardi

December 14, 2009 Leave a comment

Diari, tiada taranya kekuasaan Allah Rabb Penciptaku. Dialah yang menguasai zahir dan batinku. Dengan Nama-Nya aku menulis.

14 Disember 2009

Namaku Zatil Farhah Amani. Alkisahnya hari ini aku seharusnya akan tahu penentuan hidupku di medan perjuangan ilmuku.

Hari-hari dalam hidupku dan kisahnya bermula di sini. Kisah baiknya Allah pada diriku dan teman-teman untuk hari ini. Rentetan peristiwa yang ingin diabadikan dengan tinta penaku. Ingin semoga dirasakan baiknya Allah pada semua manusia. Maka sedetik jarum panjang pada jam menyentuh angka 8, aku sudah mulai bersiap-siap. Menghitung waktu untuk memulakan derap langkah ke kampus yang sudah hampir seperempat dekad aku mengenalinya. Sang mentari sudah mula setia menemani saat aku membuka langkah ke kampus. Ya, ku sedar kini siang  jauh lebih panjang dari malam hari rentetan dari peristiwa alami di bawah pengendalian Allah Rabbul Jalil. Aku melangkah dan terus melangkah.

”kring..kring..kak, nak tumpang…? marila diha bawak..” santun sapaan adik juniorku aliah madihah, yang saban hari ke kuliahnya mengederai basikal merahnya. ” eh,tak apalah diha..akak jalan saja..terima kasih dik..” balasku juga ringkas.

Tiba di fakulti tempat daku mendamba ilmu, aku memulakan catatan. Sedari awal memang sudah aku niatkan untuk menulis melawan kesepian.

8.20 pagi : Alhamdulillah sudah tiba di kampus. Singgah sebentar ke kantin menghilangkan gundah dari peristaltik gaster ku. Sebiji goreng pisang perlahan-lahan mula bercampur dengan asid hidroklorik dalam perutku.

8.45 pagi : Dingin dari penghawa dingin mula menurunkan suhu di palmar ku. Masih keseorangan di dalam pejabat fakulti.

9.30 pagi : Sahabat handai seangkatanku mula memenuhi ruangan pejabat. Bermula 3 orang  hingga sudah menjadi 20 orang. Dengan tujuan yang sama denganku. Masing-masing mahu menunggu hasil peperiksaan yang sebenarnya menjadi keputusan akhir tentang masa depan kami di persada perjuangan ilmu di sini.  

”30 minit lagi baru ada markah”  pendek sahaja pesanan dari kerani pejabat. Tapi sudah cukup untuk meragut ketenangan 21 jiwa yang ada di situ.  Masing-masing dengan palpitasinya tersendiri. 30 minit…

Masa berlalu tanpa disedari sudah lebih dari 1800 saat yang dinyatakan tadi. Namun, penantian itu suatu kebiasaan di sini. Kami semua terus menanti.

11.25 pagi : ”markah sudah ada..sama-sama berdoa…”  dari kejauhan aku dengar  suara sahabat seperjuanganku, Anis Batrisya.

11.30 pagi : Palpitasi kian memuncak. Aku segera keluar dari ruangan pejabat. Ketegangan suasana sudah mulai ku rasakan. Gasterku mula bergelora. Adrenalin meningkat sehingga dapat ku rasakan seperti adanya ictus cordis saat tangan singgah di bahagian sternumku. Jujur, perasaan takut sudah berjaya menguasai mindaku.

Di luar pejabat, aku berbual-bual bersama kakak seniorku. Berharap adrenalinku dapat menurun. Namun tiada perubahan. Bahkan semakin memuncak. Jantungku semakin kencang mengepam darah.

11.55 pagi : Aku lihat dari luar rakan-rakan sudah mula berkerumun. Seperti ada gula yang dihurung semut. Jangkaku, markah sudah dikeluarkan.

Markah ditampal. Tinggi dari kemampuanku untuk melihat. Dengan ramai kawan-kawan yang mengerumuni. Namun temanku Ilyas Hakimi membantu aku dengan melihatkan namaku serta markahku.

” Zatil, awak lulus!” ” Allahu Akbar…ini betul Kimi..?” soalku kembali tetapi bukan ku ragu pada Ketentuan Ilahi cuma aku khuatir temanku tersilap melihat nama. Maklumah banyak orang. ” Zatil, tahniah…” ucap seorang lagi temanku ‘Aisyah Sofiyya yang juga melihat markahku. ” Alhamdulillah….terima kasih ‘Aisyah…”

Ucapan syukur pada Ilahi seiring dengan gugurnya mutiara jernih dari mata ini. Alhamdulillah…Terima kasih Ya Allah…

Kini, aku tahu perjalananku yang baru telah bermula. Kerana destinasi sudah berbeza. Aku mula menutup pena dari coretan…

( memedikkan masyarakat…) 😉 :

* peristaltik : perut berkeroncong

* gaster : perut

* asid hidroklorik : asid dalam perut yang membantu penghadaman makanan

* palmar : tapak tangan

* palpitasi : berdebar-debar

* Adrenalin : hormon yang menyebabkan seseorang berdebar dan stress

* ictus cordis : denyut jantung yang terlalu kuat hingga dapat dirasakan dengan tangan

* sternum : bahagian tengah rongga dada manusia

Categories: karya-karya